Kiat Sukses Menghadapi Kebutuhan di Bulan Ramadhan

kiat sukses bulan ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan, tidak terasa sampailah kita pada suatu momen penting bagi umat Muslim diseluruh dunia yaitu Bulan Ramadhan serta Hari Raya Idul Fitri (Lebaran).

Di bulan ini pula, warga masyarakat khususnya di Indonesia akan berhadapan dengan kenaikan berbagai macam kebutuhan rumah tangga, saya pun sering mendengarkan orang tentang kenaikan tersebut. Sebagai seorang individu, tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk menolak apalagi menahan berbagai macam kenaikan kebutuhan tersebut.

Bagi Anggota MCU, sedari awal mengikuti Edukasi Anggota Baru pasti telah diarahkan untuk membuat anggaran dalam menghadapi perayaan setahun sekali ini. Melalui produk Simpanan Hari Raya kebutuhan dalam menghadapi bulan Ramadhan dan juga Hari Raya Idul Fitri telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Menurut salah satu dosen Fakultas Ekonomi di Yogyakarta, Ahmad Ma’ruf, konsumsi masyarakat atau rumah tangga di Indonesia pada saat bulan Puasa dan Lebaran tahun mencapai sebesar Rp 83 Triliun pada tahun 2012, jika kita menghitung rata-rata inflasi per tahun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sebesar 6% (rata-rata inflasi umum tahun 2009-2016) maka bisa kita hitung jika konsumsi masyarakat Indonesia pada saat bulan Puasa tahun 2017 sebesar Rp 108 Triliun (wawww…mantaaaaaap).

Walaupun demikian, kita tidak perlu takut. Kenapa? Karena masih banyak hal/cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi segala macam kebutuhan pada saat Ramadhan atau menjelang Hari Raya. Berikut kiat sukses menghadapi Ramadhan:

1. Menahan emosi

Pada saat bulan puasa khususnya umat Muslim yang menjalankan ibadah tersebut, mereka diwajibkan untuk menahan haus dan rasa lapar. Hanya itu saja? Jelas tidak, karena merekapun harus menahan emosi yang hinggap dalam diri. Disini kita tidak membahas emosi yang mengarah kepada perpecahan, akan tetapi emosi yang kita maksud adalah menahan emosi untuk tidak terlalu berlebihan pada saat bulan Puasa atau bahkan Lebaran.

Sebagai contoh makan makanan yang berlebihan karena pada saat bulan Puasa banyak sekali aneka makanan yang dijajakkan pada saat bulan Puasa (mending kalo dimakan, kalo tidak kemakan kan sayang/mubazir), memaksakan diri untuk membeli pakaian yang mahal/mewah, membeli barang elektronik baru atau bahkan membeli oleh-oleh yang mahal.

Menurut pakar keuangan Lisa Soemarto hal-hal seperti itu sebaiknya dihindari, lebih lanjut beliau mengatakan bahwa masyarakat Indonesia terlalu permisif (terbuka) dengan pengeluaran pada saat Lebaran (nah loh, ketahuankan… sealed).

Karena bulan Puasa atau Lebaran bukan ajang untuk pamer-pameran atau berlebih-lebihan, akan tetapi ajang untuk silaturahmi serta berbagi kebahagiaan bersama keluarga, sanak saudara, teman serta masyarakat pada umumnya.

2. Buat Anggaran Secara Tertulis

Jika Anda sudah melakukan pencatatan pada anggaran keuangan keluarga, bersyukurlah Anda. Karena dalam anggaran keuangan keluarga banyak hal yang tidak terprediksi sebelumnya.

Menurut perencana keuangan Eko Endarto, perlunya membuat catatan sederhana mengenai dana yang dimiliki dan pengeluaran selama Puasa dan Lebaran, dengan mengitung serta mencatat anggaran pengeluaran secara rinci, bisa mengurangi resiko terkurasnya anggaran keluarga khususnya setelah Lebaran.

Eko Endarto lebih lanjut mengatakan, perencanaan ini bisa dilakukan jauh-jauh hari misalnya satu bulan sebelum Puasa, dengan menghitung dana yang dimiliki (gaji) ditambah THR (Tunjangan Hari Raya) jika kondisi kita sebagai karyawan.

Setelah dana yang kita miliki jelas, tuliskan rencana pengeluaran, misalnya mulai dari anggaran belanja sepanjang puasa apakah akan sering jajan berbuka di luar atau memasak sendiri untuk lebih berhemat serta lebih yakin akan kebersihan makanan tersebut. Alokasikan juga dana untuk Zakat Fitrah serta Zakat Mal.

Khusus untuk pengeluaran Zakat Mal, kami menyarankan bahwa dana tersebut harus sudah dipersiapkan setiap bulannya. Karena disetiap harta yang kita miliki ada sebagian hak mereka yang membutuhkan. Jika kita berencana untuk melakukan perjalanan mudik, catat biaya transportasi yang akan dikeluarkan.

Catat juga biaya untuk pemenginapan jika diperlukan, hitung juga biaya makan selama di perjalanan, karena jumlah tersebut biasanya cukup besar. Anggaran juga untuk salam tempel, karena tidak sedikit orang/masyarakat menjadikan tradisi ini sebagai ajang adu gengsi, kenapa?

Karena awalnya tradisi tersebut merupakan hal mulia (berbagi rezeki), akan tetapi untuk sebagian orang hal tersebut malah dijadikan sebagai pencitraan semata. Pencatatan pengeluaran yang rinci bisa membantu kita untuk menghindari uang cepat habis.

Usahakan juga agar kita menyisihkan dana sisa atau dana cadangan dari total dana yang kita miliki, semisal ada kerusakan kendaraan di tengah atau pasca perjalanan mudik, serta untuk kebutuhan mendesak setelah Lebaran.

3. Hindari Pinjaman

Salah satu godaan di bulan Puasa menjelang Hari Raya (Lebaran) selain menahan lapar, haus dahaga dan hati serta emosi. Ada lagi yang suasah untuk dihindari disaat-saat seperti ini, apa itu? Pinjaman!

Pinjaman… yaa… satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan kebiasaan masyakat pada umumnya. Banyaknya keperluan serta alokasi dana simpanan yang terbatas bahkan cenderung tidak memiliki dana, membuat orang/masyarakat untuk memilih pinjaman sebagai salah satu jalan keluar atau alternatif untuk menutupi kebutuhan.

Pinjaman sendiri memiliki banyak bentuknya, mulai dari barang, uang dan lain sebagainya. Bahkan ada juga beberapa orang/masyarakat memiliki pinjaman melalui kartu kredit untuk keperluan Lebaran dan mudik. Menurut perencana keuangan Budi Raharjo, menggunakan kartu kredit untuk membiayai dana Lebaran adalah tindakan yang kurang bijak (Harian Kontan).

Apabila dana yang kita miliki terbatas, mungkin kita harus rela memangkas dana yang jumlahnya besar. Sebagai contoh menunda perjalanan mudik sampai tahun depan daripada harus berutang untuk membiayai perjalan mudik.

Bila kita menggunakan dana mudik dengan dana pinjaman apalagi menggunakan kartu kredit, hal tersebut justru akan menimbulkan masalah baru bagi keuangan keluarga kita, apabila tidak ada alokasi uang untuk membayar pinjaman tersebut sebelumnya.

4. Investasi

Kita tidak ingin uang THR (Tunjangan Hari Raya) yang didapat setiap satu tahun sekali tersebut hanya berlalu begitu saja (tak tersisa).

Maka dari itu, kita wajib untuk menyisihkan sebagian THR kita untuk ditabung atau dalam kata lain di investasikan kedalam hal-hal yang produktif dengan jumlah sebesar 10% s/d 15% dari THR yang didapat.

Ingatlah, bahwa investasi tersebut jangan sampai terpakai untuk hal-hal konsumtif selama lebaran atau bahkan sehabis lebaran, kan namanya juga investasi, hehehe laughing

5. Komitmen

Satu hal terakhir dari semua yang sudah kita bahas dari awal adalah komitmen, karena sebagus dan serinci apapun alokasi dana yang kita miliki tidak akan berajalan dengan apabila kita tidak komitmen untuk melakukan hal tersebut.

Komitmen yang teguh akan bisa membuat kita lebih bisa mengatur keuangan menjdi lebih mudah dan pengeluaran bisa lebih terkontrol lagi.

Semua hal di atas akan sia-sia bila ternyata kita mudah tergoda dengan ajakan teman, promo diskon menarik, emosi dan lain sebagainya jika kita tidak ingin mengalami kesulitan pasca Hari Raya/Lebaran.

Namun, jika kita masih tidak dapat menghindari pengeluaran-pengeluaran yang tidak direncanakan atau ingin memenuhi keinginan, maka cara satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mencari Income tambahan. Manfaatkan momen Ramadhan dan Lebaran ini untuk mencari peluang usaha serta gunakan bakat dan sumber daya yang kita miliki.

Beberapa tips itu memakai prinsip pemikiran yang sederhana, semuanya serbalogis dan masuk akal. Permasalahannya adalah berhadapan dengan diri sendiri, kita semua sangat emosional. Inilah yang menyebabkan banyak orang mengeluhkan beratnya pengeluaran menjelang dan saat Lebaran.

Maka dari itu berfikirlah sebelum kita melakukannya.

Ayo, rapikan kondisi keuangan kita.

Hari Raya/Lebaran seharusnya dihadapi dengan suka cita dan penuh kebahagiaan, bukan hanya memikirkan uang, uang dan uang saja!

About the author

Tedi Supriadi

Seorang Bapak dari 2 orang anak serta 1 orang istri yang memiliki jambang lumayan lebat serta Pencinta Keluarga, Pekerjaan serta Sepak Bola (BOBOTOH).

Leave a comment: